Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2019

Posted by IKOM 2C On Mei 24, 2019
Nama             : Arya Nuraghani
NPM             : 1810631190144
Kelas             : 2C – Ilmu Komunikasi
Dosen Pengampu     : Oky Oxcygentri, S.Sos., M.M.
Mata Kuliah        : Pengantar Jurnalistik


Sabtu (20/06/2018) saya, dan keempat teman saya, Haris, Fauzi, Yudha dan Rizal mengisi waktu liburan sekolah untuk pergi refreshing ke salah satu wisata di kota Yogyakarta yang menurut saya sangat terpencil dan belum semua orang tahu bahwa ada wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi apabila tiba waktu libur.

Awalnya kami bingung hendak pergi jalan ke mana, akhirnya kamipun memutuskan untuk pergi ke Pantai Goa Cemara yang berlokasi di Dusun Patehan, Gadingsari Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebuah pantai yang di pinggirnya dihiasi ratusan pohon cemara laut yang ditata secara terencana dan teratur sehingga memberi kesan bahwa pertumbuhan dahan dan ranting pohon cemara akan saling menjuntai seperti sebuah terowongan atau goa. Oleh karena itu wisata pantai tersebut dinamakan Pantai Goa Cemara. Pantai ini terletak di antara Pantai Parangtritis dan Samas. Luasnya sekitar 500m² dan masih berpeluang dikembangkan. Yang khas dari pantai ini adalah suasana lingkungan dihiasi sejumlah pohon cemara laut yang ditata rapi dan menimbulkan kesan sejuk. Penataan ruang sangat berkarakter Jogja dengan bangunan berbentuk gazebo atau joglo. Sebagian besar bangunan yang ada dibuat dari bahan dasar bambu. Khususnya di bagian tiang dan dinding.
Foto Pantai Goa Cemara

Seperti umumnya pantai-pantai yang ada di sepanjang bibir Samudera Hindia P. Jawa, Pantai Goa Cemara menyuguhkan pemandangan relatif sama. Yakni gelombang yang saling berkejaran, bergulung-gulung menuju dan menghentak pantai berpasir hitam atau kecoklatan.

Di kawasan Obyek Wisata Goa Cemara kita bisa menggelar tikar untuk bersantai, melepaskan kejenuhan. Walau matahari begitu panas tidak akan kepanasan, karena banyaknya pepohonan cemara yang menjamin keteduhannya. Sangat cocok untuk rekreasi bersama teman, pacar, atau keluarga. Nikmati keteduhannya, bercengkerama bersama keluarga melepaskan kejenuhan dan rutinitas. Sembari menikmati angin pantai dan suara deburan ombak yang ganas. Pantai Goa Cemara sungguh menarik untuk dijadikan sebagai wisata keluarga juga kegiatan pertemuan di bawah rindang pohon cemara.

Tak hanya menawarkan keteduhan, di Pantai Goa Cemara ini wisatawan juga sekaligus bisa melakukan sebuah upaya penyelamatan lingkungan berupa lelang untuk adopsi penyu yang akan dilepas ke laut. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mencintai habitat penyu. Maka tak ada salahnya jika sesekali kita berkunjung ke pantai Goa Cemara untuk merasakan suasana pantai yang ‘berbeda’ sekaligus untuk mendukung upaya penyelamatan lingkungan. Besar harapan semua pihak pantai baru Goa Cemara akan berkembang layaknya wisata pantai di Yogya lainnya yang sudah mendunia.
Siang itu cuaca begitu panas. Namun terasa sejuk ketika kami bersantai di bawah juntaian pohon cemara yang membentuk seperti goa. Saya begitu takjub akan eksotika pemandangan di wisata pantai ini. Dengan perasaan sedikit kecewa, ternyata pantainya tidak bisa dijadikan untuk tempat berenang, dan ternyata setelah saya lihat ombak pantai yang begitu menjulang tinggi akhirnya saya mengurungkan keinginan saya untuk ingin berenang di pantai itu. Karena dilarang juga oleh penjaga wisata di sana. Di sana pun kami hanya duduk-duduk di pasir hitam pantai sembari memandang desiran ombak pantai yang menggiurkan, dan menikmati suasana romantis dan penuh dengan kebersamaan bersama kawan-kawanku di pantai itu. Wah.. pokoknya saya sangat ketagihan, dan ingin mengunjungi tempat itu lagi dilain waktu.



Kamis, 23 Mei 2019

Posted by IKOM 2C On Mei 23, 2019
Nama : Nadya Agustine
NPM : 1810631190130
Kelas : 2C – Ilmu Komunikasi
Dosen Pengampu : Oky Oxcygentri, S.Sos., M.M.


Mata Kuliah : Pengantar Jurnalistik
Foto Bandara Ngurahrai Bali

Foto Hotel Umalas Residence

Foto Hotel Umalas Residence

Sebenarnya perjalanan ini sudah berlangsung hampir satu tahun yang lalu tepatnya pada 23 Mei 2018 aku dan keluargaku berkesempatan mendapatkan penerbangan di jam keberangkatan 10:55 WIB dari Bandara international Soekarno – Hatta dan akhirnya sampai di bandara international ngurahrai Bali.

Kamipun sampai di Hotel Umalas Residence untuk beristirahat,ini adalah liburan yang telah kami rencanakan sejak lama dikarenakan menunggu waktu yang tepat untuk pergi berlibur dan kebetulan pada saat itu kami sedang libur sekolah. Senang rasanya bisa menginjakkan kaki di pulau dewata Bali. Hari pertama kami sampai. kami memutuskan untuk beristirahat dan menikmati fasilitas hotel. Keesokan harinya kamipun berangkat ke Krisna Wisata Kuliner Bali untuk mencicipi makanan khas Bali. dan kami membeli oleh – oleh, sekaligus membuka jasa titip. Sudah tidak asing lagi kita mendengar kata jasa titip, hanya perlu membelikan barang yang di titip, dan mereka akan memberikan tip sebagai bayaran. jasa titip nya itu berupa skincare, souvenir, baju dll.

Setelah berbelanja, kamipun pergi menuju Uluwatu untuk menyaksikan Tari Kecak dan api khas kebudayaan Bal
Foto Krisna Wisata Kuliner & Tari Kecak Uluwatu

Foto Hotel Umalas Residence

Malam semakin larut, akhirnya kami kembali ke tempat kami menginap. Sebelum sampai di hotel kami menyempatkan untuk membeli es cream GUSTO, dan keesokan harinya kami melanjutkan penjelajahan di pulau bali. Hari ke tiga selama di bali, kami mengunjungi cafe La Laguna dan menikmati suasana jalanan kota.

Foto Es Cream Gusto, La Laguna

Foto Bali safari & Marine Park, Turtle Park, Wisata Paralayang Tanjung Benoa

Hari keempat kami melanjutkan perjalanan ke Bali Safari & Marine Park untuk menemani keponakan melihat hewan – hewan di sana dan sore harinya kami pergi menuju wisata Turtle Park, Wisata Paralayang dan wisata yang lainnya di Tanjung Benoa. dan setelah selesai kami memutuskan langsung pulang ke hotel untuk beristirahat.

Setelah beberapa hari menikmati suasana Pulau Dewata Bali, kami bersiap – siap untuk perjalan pulang menuju kota tinggal saya tidak, senang bisa berlibur ke pulau 1000 pura dengan keluarga,

Foto baju adat bali, hotel, dalam pesawat

banyak kesenangan tercipta di setiap sudut – sudut pulau Bali, walaupun kami belum meng-explore semua wisata yang ada di Bali, tapi jelas hati saya tertinggal di sana, ingin rasa nya aku kembali kesana.
Posted by IKOM 2C On Mei 23, 2019
Puncak Surono 2018

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda”. Itulah kata-kata filsuf Yunani yang disukai Soe Hok Gie, sehingga setiap akan mendaki selalu terngiang dibenak saya oleh kata kata bijak yang disukai Gie ini.Gunung Slamet dengan ketinggian 3.428 Mdpl merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah atau tertinggi ke-2 di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru 3.676 Mdpl tertinggi di Jawa Timur. Gunung Slamet adalah sebuah gunung api kerucut yang terletak di 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Brebes, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang.

Gunung Slamet selama ini memang menunjukan suatu keagungan dan itu tidak lain karena adanya asal usul dan berbagai cerita kuno yang beredar di masyarakat sekitar. Asal Usul Gunung Slamet ini memiliki nama yang baik dalam bahasa maupun maknanya. Misalnya menurut J. Noorduyn, seorang sejarawan asal belanda menyebutkan bahwa nama asli gunung tersebut adalah Gunung Agung. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa nama asli Gunung Slamet adalah Gora. Tokoh yang menyebutkan nama tersebut adalah Syekh Maulana Magribi,yaitu merupakan sahabat Syekh Siti Jenar.

Dibalik keindahan alamnya yang mempesona ternyata Gunung Slamet segudang cerita misteri, salah satunya Pos 4 Samaranthu berasal dari kata Samar dan Hantu yang pernah saya lewati ketika mendaki. Sedikit cerita waktu itu perjalanan dari Pos 3-4 membutuhkan waktu kurang dari 10 Menit. Setelah sampai di pos Samaranthu pukul 17.00 saya bertiga bersama teman saya beristirahat kurang lebih 30 menit, sepi tidak ada kecuali cuma kami bertiga. Banyak kejanggalan disini pertama jarang pendaki yang beristirahat disini, kedua ada dua pohon besar yang yang diselimuti lumut dan akar akar berbentuk seperti pintu. Konon pohon tersebut dipercaya sebagai pintu masuk kerajaan makhluk astral. Sedikit percaya ga percaya sih, coba nih teman teman liat.


Pos 4 Samaranthu
Dan ada lagi satu cerita ketika saya Summit Attack waktu menunjukan pukul 02.00 WIB. Salah satu teman saya sebut saja namanya Herlan, biasanya dia yang paling semangat ketika summit. Tapi kali ini dia agak aneh mulai dari sering melamun, terus selalu melihat ke arah pinggir saya. Okey saya jangan terbawa suasana, mencoba menghibur teman-teman adalah suatu kewajiban. Kemudian dibatas vegetasi sebelum menuju puncak saya melihat batu bertuliskan nama seorang pendaki yang gugu untuk menghormati korbanr. Dan akhirnya kali ini perasaan saya lega karena impian untuk mencapai puncak gunung slamet telat terwujud.

Ketika perjalan pulang, teman saya tadi menceritakan alasan kenapa dia banyak diam. Dia menceritakan bahwa waktu summit di pinggir saya ada sebuah makhluk bentuknya tinggi besar, yaa mungkin semacam jin yang menyerupai genderuwo wkwk. Tapi selama saya mendaki belum pernah sekalipun saya bertemu mahkluk semacam itu. Selalu ingat nasihat Dosen spiritual saya yaitu Emha Ainun Nadjib bahwa kita tidak boleh takut atau benci jin karena ini bumi kita bersama. Tuhan pernah bilang “Wahai sekalian jin dan manusia”(Ar-Rahman:33), ayat tersebut menjelaskan bahwa jin turun terlebih dahulu sebelum manusia loh. Jin teman kita atau bisa dibilang kakak tertua kita, cuma kita boleh melakukan hal hal yang sifatnya syirik kepada tuhan dan seterusnya.

Maulana Syamsul Hidayat (1810631190147)

Rabu, 22 Mei 2019

Posted by IKOM 2C On Mei 22, 2019
Mengunjungi Perpustakaan Tertinggi di Dunia




Hari Minggu biasanya digunakan sebagai hari untuk beristirahat. Namun tidak berlaku bagi mahasiswa yang hidupnya selalu di kejar dengan tugas. Tugas seakan ombak yang ingin menggulung para mahasiswa. Ironisnya tugas yang menumpuk bak gunung, tidak diiringi tekad dan ide yang muncul dari mahasiswa. Itulah yang aku rasakan di weekend ini. Tapi itu berlaku saat baru bangun tidur aja, setelahnya harus siap sedia menyelesaikan tugas-tugas itu.

Siang hari yang teramat terik di Jakarta, serasa di padang gurun sahara. Sangat menusuk. Hari Minggu ini memang aku jadwalkan untuk mengunjungi dan menyelesaikan tugas di perpustakaan yang sangat luar biasa dan menjadi salah satu perpustakaan tertinggi di dunia. Memangnya ada di Indonesia? Tentu saja ada, namanya adalah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau bisa disingkat Perpusnas. Perpustakaan ini menjadi perpustakaan tertinggi di dunia dengan tinggi 126,3 meter (menurut detik.com) dan itu menjadi suatu kebanggan bagi kita warga negara Indonesia. Terdiri dari 24 lantai dan 3 lantai di bawah tanah, total menjadi 27 lantai. Aku ga bisa menjelaskan ada apa saja di setiap lantainya, tapi hanya beberapa lantai saja yang menurutku menarik dan sering aku kunjungi.

Lantai satu adalah lobby utama dan disana disediakan kunci loker untuk menyimpan barang pribadi agar tetap aman. Biasanya aku meminta kunci loker oleh penjaga di sana. Lantai dua adalah tempat pendaftaran untuk menjadi dan mendapatkan kartu anggota perpusnas. Disana kalian bisa daftar secara online dan langsung dapat diproses kartunya. Pendaftarannya pun gratis dan tanpa syarat khsusus selain biodata lengkap. Lompat ke lantai empat, disana terdapat ruang pameran dan juga kantin. Jadi yang mau jajan-jajan bisa mampir. Kantinnya pun enak untuk diskusi juga. Lantai tujuh nih paling unik. Disana ada layanan khusus bagi anak-anak, lansia dan juga disabilitas. Ruangannya juga penuh warna. Lantai 13 dan 14, isinya buku langka. Cocok buat kalian yang mau lihat-lihat buku langka. Lompat ke lantai 21 dan 22, disana isinya adalah buku monograf terbuka dari disiplin ilmu yang ada. Lalu yang terakhir lantai dua puluh empat adalah koleksi budaya nusantara dan biasanya menjadi tempat menerima tamu dari mancanegara.

Aku kesana ingin menyelesaikan tugas dan memang, koleksi buku di perpusnas sangat lengkap. Semua literarur dari berbagai disiplin ilmu ada disana. Biasanya lantai yang aku kunjungi itu di lantai 21 atau 22. Buku disana lengkap dan sesuai dengan tugas-tugas kuliah. Walaupun buku bacaannya tergolong ilmiah dan berat, tentu saja tujuannya adalah akademik dan proses penilitian. Fasilitas di lantai 21 dan 22 sangat nyaman sekali. Ruangan yang dilengkapi pendingin udara, wifi, kabel LAN untuk laptop, stop kontak, sofa, jendela dengan pemandangan yang mengagumkan. Semuanya terasa sangat nyaman dan bebas duduk dan membaca atau mengerjakan dimana saja.

Sore pun tiba, aku bergegas untuk pulang dan tugas kuliah ku sudah selesai. Oh iya, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bertempat di Jalan Medan Merdeka Selatan. No. 11, Gambir, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat. Mudahnya tepat di depan lapangan Irti Monas atau tepat di samping gedung utama Kementrian BUMN. Aksesnya mudah banget untuk berkunjung ke perpusnas ini. Biasanya aku naik kereta dan turun di Stasiun Juanda, lalu tinggal naik ojek online atau naik Bus Gratis Jakarta dan turun tepat di depan perpusnas.

Nah itulah perpustakaan tertinggi di dunia yang dimiliki Indonesia. Perpustakaan ini seperti tempat yang selalu menarik untuk ku. Daya pikatnya dan koleksi bukunya seperti matahari di cakrawala, membawa hangat dan sinar pengetahuan ke setiap orang yang berkunjung ke sana. Aku seakan ingin selalu ke sana dan betah untuk berlama lama. Semoga dengan adanya perpustakaan ini dapat membuat masyarakat Indonesia gemar membaca dan gemar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Serta dapat menanamkan pada setiap orang untuk peduli terhadap minat baca, khususnya di negara tercinta Indonesia.













Nama: Guntur Ajiselo

NPM : 1810631190120

Kelas : Ilmu Komunikasi 2C

Mata Kuliah : Pengantar Jurnalistik

Tugas : UAS Pengantar Jurnalistik (Feature)

Dosen Pengampu : Oky Oxcygentri, S.Sos., M.M


Posted by IKOM 2C On Mei 22, 2019
Dinginnya udara yang merupakan ciri khas daerah ini menjadi penyambut kedatanganku di kabupaten Bandung, Lembang. Setelah melalui perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam, akhirnya aku sampai di salah satu tempat wisata yang terkenal di Lembang. Sebuah kawasan sejuk diatas perbukitan yang menjadi salah satu alasan ku berkunjung ke Floating Market Lembang. Floating Market ini merupakan salah satu tempat wisata yang cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Sesuai dengan namanya, di Floating market para pedagang menggunakan perahu. Luasnya area tempat wisata ini dimanfaatkan oleh pengelola dengan adanya beberapa destinasi menarik yaitu Kota Mini dan Rainbow Garden. Selain itu, ada juga destinasi yang epik yang bernama Kyotoku Floating Market.

Destinasi pertama kali yang aku kunjungi yaitu Rainbow Garden. Cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp. 10.000-, kita bisa menikmati indahnya kebun bunga berwarna warni seperti pelangi. Penataan tempat yang baik membuat para pengunjung menikmati tempat ini untuk berfoto atau bersantai menikmati sejuknya udara. Dengan adanya spot foto yang disediakan membuat pengunjung nyaman berlama-lama di tempat ini. Di Rainbow Garden ini juga ada sebuah bangunan yang menampilkan sebuah rumah cantik yang dihiasi dengan banyaknya tanaman bunga di dalam dan luar rumah itu. Aku pun tertarik untuk berfoto sambil menikmati indahnya pemandangan dari rumah itu.


 Rainbow Garden Floting Market

Tak henti-henti aku merasa kagum atas keindahan panoramanya. Pesona eksotisnya berupa warna-warni bunga dan pemandangan disekitar kebun. Angin memberikan kesejukan dan rasa damai. Para pengunjung semua berwajah ceria dan tertawa lebar, merasakan kebahagiaan berada ditempat yang seindah ini. Letihnya kaki karena berjalan-jalan mengitari kebun bunga pun terbayar lunas dengan keindahan warna-warni bunga dan pemandangan yang luar biasa.

Setelah itu, aku melanjutkan jalan-jalan dengan mengitari pinggir danau di Floating Market. Disana terdapat wahana tempat miniatur kereta api dan perlintasannya. untuk melihatnya cukup merogoh kocek sebesar Rp. 20.000-,. Selain itu ada beberapa binatang yang bisa kita jumpai disini, seperti angsa, domba, ayam, kelinci dan ikan. Adapun wahana bermain seperti outbound dan wahana air seperti sepeda air dan perahu dayung. Selanjutnya aku menuju ke Floating Marketnya, dimana para pedagang berada di perahu untuk berjualan. Yang membuat unik tempat ini adalah cara jual belinya. Disini kita harus menukarkan uang dengan koin untuk membeli makanan atau barang. 


 Floating market 

Setelah sekian lama mengelilingi pinggiran danau. Adapun destinasi selanjutnya yaitu Kyotoku Floating Market. Dari namanya saja sudah bisa ku tebak, tempat ini pasti bernuansa Jepang. Dan benar saja dari kejauhan pun sudah terlihat hampir di tengah danau ada bangunan yang menyerupai bangunan di Jepang. Di Kyotoku Floating Market, aku bisa berfoto dengan background yang 'Jepang' banget dan seakan-akan aku sedang berlibur di negeri Sakura. Selain itu, untuk membuat kita benar-benar seperti liburan di Jepang disana bisa memakai kostum khas Jepang yang bisa aku sewa. Dan yang lebih keren lagi untuk masuk ke destinasi ini gak usah bayar loh. Kecuali jika ingin berfoto kayak model Jepang baru harus bayar uang sewa kostum dan yang lainnya.



Kyotoku Floting Market

Tak terasa matahari sudah mau terbenam secara perlahan mengakhiri perjalananku kali ini. Aku memutuskan untuk pulang walaupun ada satu destinasi lagi yang belum aku kunjungi yaitu Kota Mini. Tak bisa aku lupakan perjalanan kali ini karena tempat indah, unik serta menyenangkan. Jika kalian mau berkunjung waktu yang tepat yaitu pagi hari supaya kalian bisa bermain seharian di Floating Market. Kalian cukup merogoh kocek sebesar Rp. 25.000-, untuk bisa masuk ke tempat ini.


Risma Eva Dinar
(1810631190115)